Ciri-ciri P2P Ilegal

Berkembangnya teknologi menjadikan P2P lending sebagai pilihan bagi masyarakat sebagai pinjaman dana cepat cair untuk kebutuhan modal usaha. Namun, akhir-akhir ini semakin banyak layanan fintech P2P lending ilegal yang beredar.

Sebaiknya ketahui terlebih dahulu ciri-ciri dari fintech ilegal, agar tetap waspada dan menghindarinya. Berikut adalah 4 ciri dari fintech ilegal yang perlu diperhatikan :

  1. Identitas perusahaan disamarkan / tidak jelas

Secara hukum, setiap perusahaan harus memiliki identitas, setidaknya alamat dan nomor telephone, yang jelas. Terkait dengan pinjaman online, hal tersebut merupakan hal dasar yang perlu diketahui para calon nasabah. Dikarenakan apabila adanya laporan nasabah yang merasa dirugikan atau ingin melakukan pengaduan terhadap perusahaan tersebut, pihak berwajib tidak kesulitan untuk melakukan pencairan perusahaan tersebut.

Oknum fintech ilegal biasanya menyamarkan identitas perusahaannya bahkan dilakukan oleh karyawannya, dengan mengganti nama asli dengan nama samaran.

2. Syarat yang mudah dan tidak masuk akal

Cepat, singkat dan mudah merupakan hal yang ditawarkan oleh para fintech ilegal untuk menarik minat nasabah. Bahkan hanya dengan 15 menit dana dapat di cairkan.Oke  Hal ini dilakukan oleh pelaku dikarenakan biasanya mereka menutupi poin-poin yang akan dapat merugikan nasabah dikemudian hari.

Fintech legal memiliki formulir pengajuan yang sudah terstandarisasi oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK) dan dilakukan pengecekan secara detail terlebih dahulu. Oleh sebab itu memerlukan waktu yang tidak singkat.

3. Meminta akses dan Menyalin data pribadi

Berdasarkan aturan dari OJK fintech P2P Lending hanya dapat meminta akses 3 fitur pada perangkat nasabah yaitu kamera, mikrofon dan lokasi. Maka ketika anda mengunduh aplikasi fintech P2P Lending, periksalah izin aplikasi tersebut. Fintech Ilegal pada biasanya meminta akses data yang tidak lazim seperti akses kontak, foto dan lainnya.

4. Bunga/Margin dan biaya yang sangat tinggi dan tidak transparan

Pada dasarnya, OJK tidak menetapkan bunga/margin fintech P2P Lending, namun Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) sudah menetapkan maksimal bunga/margin yang disepakati sebesar 0,8%/hari. Pada praktiknya fintech ilegal menerapkan bunga yang sangat tinggi hingga 2-3% per harinya ditambah denda-denda yang tidak jelas. Serta tidak memiliki transaparansi terkait struktur perhitungan.

5. Tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan

Cara paling mudah untuk mengetahui apakah suatu fintech P2P Lending  tersebut legal (terdaftar) atau ilegal adalah dengan melihat daftar fintech P2P lending yang sudah terdaftar dan diawasi oleh ojk. List perusahaan-perusahaan dapat diakses di link ini.

Setelah mengetahui ciri-ciri dari Fintech P2P ilegal, pastikan anda tidak tergoda menjadi nasabah Fintech Ilegal tersebut.

Source :
https://www.ojk.go.id/id/kanal/iknb/data-dan-statistik/direktori/fintech/Pages/-Direktori-Fintech-(Peer-To-Peer-Lending)-per-Januari-2020.aspx

https://keuangan.kontan.co.id/news/meresahkan-masyarakat-begini-ciri-ciri-fintech-ilegal

https://www.cermati.com/artikel/waspada-fintech-bodong-ojk-rilis-5-ciri-fintech-lending-ilegal